Business

header ads

Subscribe Us

header ads

DIVISI-DIVISI RAS MELAYUBagian Tiga

4. Divisi Indonesia timur.

Divisi Indonesia timur; terbagi ke dalam beberapa kelompok Bali, Lombok, Flores, Timor, Halmahera, kepulauan Maluku, Kei, Tanimbar dan kepulauan Aruh. Populasi di kepulauan Maluku, Halmahera, Kei, Aru, Flores, dan Timor dikelompokkan sebagai ras campuran antara Melayu, Polinesia dan Melanesia. 

Berbagai penelitian etnologi telah identifikasi bahwa penduduk di Kawasan itu dikelompokkan sebagai ras Austro-Malayan, atau Alforo. Konsep Austro-Melayan menunjuk ras Austronesia dan Melayu, dimana mereka adalah produk campuran kedua ras itu. Berbagai studi anthropologi, linguistik, genetik menunjukkan mereka adalah ras campuran antara Melayu, Austronesia, Melanesia dan sedikit darah Aborigin-Australia (Blust 1993, 1999; Crawfurd 1820, 1848; Douglas 2008; Murray 2008; dan Richards et al. 1998). Untuk divisi kepulauan Maluku dan Timor group lebih lanjut dibahas terpisah di bagian lain.

5. Divisi Celebes. 

Divisi Celebes; Celebes atau Sulawesi terletak diantara Benua Sahul dan Benua Sunda, di mana kawasan ini telah ditemukan spesies hewan dan tumbuhan yang mencirikan kedua kawasan itu. Alfred R. Wallace mengatakan posisi Celebes menjadi central di kepulauan itu, karena semua sisi terkoneksi, di bagian utara adalah Filipinan; sebelag barat Borneo; di sebelah timur kepulauan Maluku; dan di sebelah selatan adalah Timor Group; pada semua sisi terkoneksi melalui satelit, atau melakukan penelitian lapangen di kepulauan itu dengan menggunakan peta (Wallace 1890: 207). 

Posisi central di kepulauan ini merepresentasikan di pulau ini telah ditemukan berbagai spesies hewan dari seluruh dunia di kawasan ini. Karena posisi central itulah, laut Sulawesi menjadi demergasi antara Asia dan Pasifik yang ditetapkan oleh Wallace. Batas demergasi itulah disebut “Line Wallace” yang memisahkan Pasifik dan Asia. 

Di pulau ini menempati divisi Melayu Celebes yang terbagi ke dalam banyak etnik group bervariasi. Makasar, Bugis dan Toraja di bagian selatan, Buton di Tenggara, Palu, Entrekan dan beberapa lain di bagian tengah dan Minahasan paling utara. Etnik group seperti Makasar, Bugis, Buton dan Toraja memiliki sifat enspansif tinggi, mereka ekspansi keluar dari tanah mereka dan menguasai ekonomi dan perdagangan di berbagai daerah di Indonesia. 

Di Papua tiga kelompok ini menguasai dan monopologi perdagangan di berbagai kota di seluruh Papua. Demikian Toraja banyak keluar dari wilayah mereka dan menguasai hampir seluruh sektor penting di Papua. Toraja adalah salah satu populasi migran paling banyak di Papua, mereka menguasai ekonomi, pemerintahan, dan birokrasi dan berbagai sektor lain di Papua. Terkadang cara mereka yang tidak terpuji dan buruk untuk memperoleh keinginan mereka. Misalnya, seseorang menempati posisi tertentu, ia bawa para pengangguran dari daerah asal dan menempatkan mereka dalam berbagai jabatan di tempat ia bekerja. Di daerah pegunungan Papua, kelompok etnik ini menggunakan tiga pendekatan: isu sesama orang pedalaman, sesama orang kristen, dan sesama budaya bertenak dan makan daging babi. Dengan pendekatan itu, mereka menguasai dan menopoli centra ekonomi, politik dan birokrasi. 

Studi arkeologi terbaru menjelaskan leluhur orang Sulawesi telah menduduki daratan Pulau itu pada periode Holocene antara 10.000 dan 4500 BP, tetapi mengikuti periode ini masih dinamis. Karena interval manusia mencapai daratan Sulawesi dalam periode yang tidak terlalu lama, manusia mencapai pulau itu interval 4500-4000 tahun yang lalu (Bulbeck, et al. 2018: 105). Berdasarkan penemuan zooarkeologi di Gua Mo’o hoondi Sulawesi Selatan menunjukkan pada periode 3500 tahun lalu manusia hidup berburu dengan beberapa jenis hewan liar, dan benda arkeologi di Gua Mo’o hono menemukan manusia konsumsi babi, rusa dan anjing. Makanan sejenis juga telah diidentifikasi di Sulawesi barat, dan beberapa wilayah lain. 

Pig and dog have both been identified in West Sulawesi along the Karama River at sites such as Minanga Sipakko and Kamassi, where communities established open-air settlements by c. 3500 cal BP. These settlements also differ from Gua Mo’o hono in that they are often considered to represent colonisation of the island by Malayo-Polynesian-speaking populations and exhibit a variety of associated material culture such as red-slipped pottery, ground-stone technology and stone beads (Anggraeni et al. 2014, in Bulbeck, et al. 2018).

Dengan demikian babi, rusa dan anjing adalah makanan kesukaan para leluhur orang Sulawesi Selatan dan Sulawesi barat, budaya itu masih bertahan hingga kini pada populasi yang menganut agama Kristen seperti orang Toraja, Minahasan dan penduduk di pulau-pulau sekitar seperti orang Sangir, dan Talaut. Penduduk Sulawesi seperti Makasar, Bugis dan Buton kebiasaan konsumsi daging babi itu telah ditinggalkan setelah mereka menerima dan menganut agama Muhametan karena dianggap makanan haram. Karena pada abad ke-14 orang Makasar secara pasti telah menerima pengaruh Indo-Jawa dari Kerajaan Majapahit, dan dalam waktu yang singkat telah menerima agama islam (Robequain 1964: 233). Penduduk asli di barat daya Sulawesi mengenal berburu-meramu setelah periode Holocene. Argumen yang sama juga terhadap orang Luzon, di Filipina yang mana mereka baru saja menempati populasi yang digambarkan oleh variasi item materi budaya, dan banyak kemiripan yang direkam di lembah Karama, sungai Kagayang ((Peterson 1974, Hung et al. 2011 in Bulbeck, et al. 2018).         

6. Divisi Borneo.

Divisi Borneo dibagi ke dalam variasi etnik group dan etnik-etnik itu tersebar di dalam tiga negara: Indonesia, Malasya, dan Brunei. Di pulau ini dihuni dua kelompok besar: Dayak, dan Melayu. Tanah Borneo sering dijuluki sebagai “Borne is the home of the Dyak”, di masa lalu semua etnik yang belum mencapai peradaban dikategori sebagai orang Dayak di pulau ini. Namun realita tidak demikian, orang di pulau ini tidak homogenitas asal-usul dan mode hidup.

Anthropolog membedakan tipe dominan dari roman mukanya adalah seorang Mongoloid brachycephalic, dan termasuk tipe ini adalah orang Kenyas, Kayan, Bahan, dan Iban, dan lainnya terdiri dari bentuk kepala dolichocephalic adalah orang Klementan, populasi besar di bagian Sarawak, di lembah Kapuas dan bagian utara dari Kutai. Populasi dominan adalah orang Dayak, yang menempati di barat laut dan barat daya yakni orang Dayak Iban dan Dayak Klementan yang telah mengalami proses intermediasi dengan migran yang datang dari Indo-Cina dan Filipina (Robequain 1964: 220). 

Di Wilayah yang menjadi bagian Indonesia, banyak migran Jawa, Cina, Sumatra dan Makasar ke sana melalui transmigrasi, dan migran spontan untuk berbagai tujuan. Orang asli Dayak telah banyak mengalami intermediasi melalui assimilasi perkawinan. Tanah-tanah milik penduduk asli Borneo diambil alih oleh pemerintah dan kelompok migran untuk berbagai kepenting seperti perkebunan kelapa sawit, pembangunan insfrastruktur pemerintah dan investasi asing. 

Pemerintah Indonesia masa kepemimpinan Presiden Jokowi sedang membangun ibu negara baru di kalimantan Timur, dan tanah-tanah masyarakat adat orang Dayak telah diambil dan akan terus dikuasai di masa akan datang. Karena setelah berpindahan ibu kota negara sangat membutuhkan tanah yang cukup luas, populasi akan bertambah, pembangunan insfrastruktur, dan pengembangan ekonomi akan meningkat. Orang Dayak akan mengalami kehilangan tanah untuk selamanya dan penderitaan mereka berkepanjangan.
  
Tanah adat orang Dayak di Borneo Malasya juga sama, pemerintah Malasya rampas tanah dengan menerapkan “konsep baru” dan “code tanah”, untuk proteksi kapitalis dan non-Dayak. Dengan cara tanah-tanah masyarakat pribumi diregistrasi dengan tujuan untuk membatasi hak orang asli, melindungi non-Dayak dan lebih mudah untuk control tanah-tanah adat dari masyarakat pribumi Dayak (Cooke 2006). 

Etnolog Eropa kategori orang Dayak sebagai savages, di mana dalam perjalanan mereka ke lembah Kapuas atas, Mahakam Atas dan Tengah yang terletak di garis lurus seribu kaki dan bertemu dengan orang Dayak. Mereka lihat bentuk kehidupan yang bersih, sehat, dan hidup dalam rumah komunal. Di Mandangas tanah di bagian belakang Brunei adalah mata cemerlang, lebih mudah bergerak, pendayung luar biasa, bekerja di hutan tidak dapat dipandingkan. Dengan pemandangan itu telah tiba bentuk kehidupan orang Dayak yang sebenarnya (Robequain 1964: 221). Dimana populasi biasanya hidup bersama secara kelompok dan membangun rumah yang berdampingan, dan Panjang rumah disesuaikan dengan jumlah keluarga yang tinggal bersama dalam rumah tersebut. 

Sebelum peradaban modern mencapai Borneo tanah dan laut semuanya adalah dimiliki oleh orang Dayak sendiri yakni: “Sae-Dyaks and Land-Dyaks”; tetapi pembangunan diambil alih oleh orang Indian Timur atau Melayu, semuanya dibangun untuk kepemilikan dan kepentingan bersama. 

Robequain mencatat tahun 1350 pulau itu berada dibawah pengaruh Indo-Jawa dari kerajaan Majapahit. Pendudukan Melayu telah dibangun di sepanjang distrik-distrik pesisir pantai dan khususnya di lembah-lembah rendah Kapuas dan Kutai, dan sepanjang pantai selatan. Migran Melayu itu interaksi dengan orang Dayak menjadi penganut muslim. Di Banjarese telah terjadi bercampuran antara elemen Arab, Melayu dari Johore, Jawa, dan Bugis dari Sulawesi.
 
Hampir sama dengan di Semenanjung Malasya, populasi Melayu di semenanjung itu adalah migran dari Sumatra, Jawa dan Sulawesi yang mendirikan pemukiman para migran itu dalam rangka memperluas kekuasaan Sriwijaya pada abad ke tiga belas; dalam periode yang sama tahun 1350 kerajaan Majapahit di Jawa juga memperluas pengaruhnya hingga ke Borneo dan mengirimkan migran Melayu dari Jawa, dan Bugis untuk mendirikan pemukiman mereka di sepanjang pesisir pulau Borneo. Dengan demikian, populasi Melayu di Semenanjung Malasya dan di Borneo adalah migran Sumatra, Jawa dan Sulawesi. 

Peristiwa pendudukan tersebut telah mengulang kembali dengan migrasi dan pendudukan illegal bangsa Melayu di West Papua sejak 1 Mei 1963 hingga kini, untuk menduduki dan menjajah bangsa West Papua ini. 

7. Divisi Filipina.
            
Divisi Filipina; kepulauan Filipina adalah sebuah group lebih dari empat ratus pulau, ditambah dengan enam ratus pulau kecil yang terpisah satu dengan lain. Kemungkinan pulau-pulau di dunia lebih dari itu. Total luas tanah adalah 115.000 kuatrad mil, jika dipandingkan sama dengan luas Arizona, atau kurang lebih sama dengan Inggris Raya dan Ireland. Pulau yang paling besar adalah Luzon di utara, berikutnya Mindanao di selatan. Secara geografis dua pulau ini menjadi pusat di kepulauan ini. Diantara garis kedua pulau itu, di central adalah Bisayan group yang terdiri atas banyak pulau kecil yang tujuh diantaranya ukuran medium: Panay, Negros, Cebu, Pohol, Leyte, Samar, dan Masbate. Pulau kecil Babuyanes dan Batanes berada digaris yang hubungan langsung dengan Formosa. Paling jauh Batanes, Formosa kelihat bila suaca cerah, dan ini pulau yang besar dihadapan pantai Cina. Luzon, Samar dan Leyto membentuk tahap ke laut selatan dari Mindanao. Di sinilah dibawa kepada permukaan samudra Pasifik dan memandang keindahan dari pulau-pulau dihadapan Halmahera. Lain paralel dengan itu adalah Mindanao melalui pulau Sangir ke sayap utara pulau besar Celebes. Pulau-pulau lebih yang lebihnya di bagian barat melalui pulau Luzon. Melalui pulau Negro dan Mindanao mengantar ke kepulauan Sulu, paling besar adalah Basilan, Sulu, Jolo dan Tawi-Tawi. Kepulauan Sulu berada di barat daya, dan sangat dekat dengan barat laut pulau besar Borneo (Kroeber 1928: 21-22). 

Di kepulauan ini telah menempati dua ras umat manusia yang berbeda satu dari lain. Para antropolog secara fisik identifikasi dengan tipe fisik warna kulit coklat gelap, dan rambut kerinting adalah tipe asli yang telah lama menghuni daerah kepulauan India timur termasuk Filipinan. Mereka adalah Negrito, Vedda, dan Papua, mereka frekuensi paling banyak di sebelah timur; Proto Melayu atau Indonesia, adalah salah satu tipe yang lebih maju dengan relatif lebih kompleks terang roman muka, dan terakhir tipe Malay dengan hitam kompleks dan jelas roman mukanya mongoloid. Kelas-kelas dan tipe-tipe itu adalah hanya dapat didefinisikan dengan jelas bahwa tiap tingkat adalah campuran dan transisi. Hal sangat sulit untuk membuktikan fakta-fakta proto-Melayu dari Melayu, dan sangat sulit juga untuk membuktikan fakta-fakta antara orang pedalaman dan orang di daerah pantai (Robequain 1964: 272). 

Buku-buku referensi lama mengambarkan, tipe ras hutam atau negritos sebagai ras asli. Tipe Proto-Melayu atau Indonesia adalah tipe yang sama dengan di Celebes, Jawa dan Sumatra, dan tipe ini datang dari daerah-daerah itu. Tipe Deuntero-Melayu adalah tipe Mongoloid dengan ciri-ciri yang mirip dengan darah campuran Indo-Cina, atau Cina dengan Melayu. Tiga tipe ras manusia itu akan dijelaskan selanjutnya secara ringkas di sini.
             
(1). Ras Negritos sebagai ras asli dan tertua mendimai kepulauan Indian mulai dari Andama di barat, Filipinan di utara, Maluku dan Timor Group di bagian timur. Divisi negritos tidak dibahas disini karena akan dibahas dengan sub teme tersendiri di bagian depan lain. (2). Ras warna Coklat, manusia dengan tipe ini ialah kelompok campuran antara negritos dengan ras kaukasian. Ketiga, ras warna kuning atau Mongoloid, populasi yang berasal dari Indian Timur (Indian Timur, Kepulauan Indian dan kepulauan Malay menunjuk wilayah mulai dari Indaman, Filipina hingga Aru dan Timor group). Istilah Mongoloid tidak menunjukkan orang Cina atau ras Mongoloid dari Asia, tetapi konsep Mongoloid telah meliputi semua ras kuning yang menempati Asia Timur, penduduk asli Amerika dan orang Oceanik lain. Orang Cina adalah orang Mongolian telah lama mencapai peradaban, dan itu membedakan dengan kelompok lain. (3). Ras Melayu dan Indonesia. Divisi Melayu dan Indonesia ini disebut juga sebagai ras sub–Oceanic Mongoloid, dan ditemukan di seluruh wilayah India Timur, di Jawa, Borneo, Sumatra, Sulawesi, termasuk Filipina. Sub-tipe ini oleh Kroeber dinamai Malayu proper atau Deuntero-Melayu. Tipe mereka adalah kepala bulat, dan hidung lebar medium. Su-tipe kedua adalah Indonesia atau Proto-Melayu, sub-tipe ini berbeda dalam beberapa hal. Tingga tubuh mereka lebih tinggi beberapa centimeter, kepala lebih kecil, hidung sangat lebar. Figurnya lebih pendek dan gemuk, kaki dan tangan pendek, dan ciri secara umum sama untuk tipe Melayu. Di Filipina ada sembilan belas atau lebih populasi untuk divisi Melayu (Kroeber 1928: 47-49).

Kelompok-kelompok tipe manusia tersebut didistribusi di variasi pulau di kepulauan Filipinan. Tipe Indonesia termasuk dalam kelompok Pagans, menempati di bagian dalam pulau Luzon dan pedalaman Mindanao. Ciri tipe ini sama dengan mereka yang hidup bagian lain. Tipe Indonesia paling nyata diantara Luzon group. Di Mindanao bervariasi diantara tipe Indonesia dan tipe Melayu, beberapa suku penganut islam di pantai benar-benar tipe Melayu dan Sebagian mereka sudah menganut Kristen, mereka adalah Melayu Pagan. 

Dua tipe manusia, Deutero-Melayu dan Proto-Melayu itu dapat digambarkan sebagai berikut: 1). Ras Mongoloid – Melayu atau Deutero-Melayu terbagi dalam dua puluh tiga divisi. Tipe Deutero Melayu yang menganut Kristen lima belas kelompok; Deutero-Melayu menganut Islam empat kelompok, sedang Deutero-Melayu menganut Pagan empat kelompok. Kelompok Kristen Deutero-Melayai sebagai berikut: (1). Gagayan. (2). Ilokano. (3). Pangasinan. (4). Sambal. (5). Pampanga. (6). Tagalog dari Bulakan. (7). Tagalog dari Irizal. (8). Tagalog dari Laguna. (9). Tagalog dari Tavite. (10). Bikol. (11). Bisaya dari Panay. (12). Bisaya dari Negros. (13). Bisaya dari Kebu. (14). Bisaya dari Leyte. (15). Bisaya dari Samar. Deutera-Melayu yang menganut Muhametan atau muslim yaitu: (16). Moro dari Davao. (17). Moro dari Gotabato. (18). Moro dari Zamboanga. (19). Moro dari Sulu. Selanjutnya Deutero-Melayu yang disebut orang Pagan terdiri dari: (20). Lembah Tinggian di Muzon. (21). Pegunungan Tinggian di Muzon. (22). Subanun di Mindanao. (23). Tagakaolo di Mindanao. 2). Ras Mongoloid – Indonesia atau Proto-Melayu terbagi ke dalam delapan kelompok etnik yang semua adalah orang Pagan sebagai berikut: (1). Bontok di Luzon. (2). Kankanai di Luzon. (3). Nabaloi di Luzon. (4). Ifugao di Luzon. (5). Ilongot di Luzon. (6). Manobo di Mindanao. (7). Bilaan di Mindanao, dan (8). Tagbanua di Palawan (Kroeber 1928: 53). Maka seluruhnya dua tipe ras Melayu di Filipina yaitu, ras Deutero-Melayu dan Proto-Melayu terbagi menjadi tiga puluh variasi atau kelompok. Jumlah kedua kelompok Melayu itu tidak termasuk dengan kelompok Negritos sebagai ras asli yang paling tertua di Kawasan ini. Dimana seorang etnolog Meyer (1899) telah dikelompokkan menjadi delapan sub divisi Negritos yang tersebar di seluruh kepulauan Filipina.

Kedua tipe ini berasal dari ras manusia yang sama, tahap demi tahap kedua tipe ini migrasi masuk ke Filipina dalam dua tahap. Tipe Indonesia atau Proto-Melayu tiba pertama, dan mendesak dan mengusir ras asli Negritos dari wilayah mereka ke pedalaman, merampas dan menduduki daerah pesisir pantai dan distrik-distrik di dataran rendah. Tipe Indonesia atau Proto-Melayu ini kemudian bergeser ke daerah kaki gunung, dan hulu sungai karena terdesak oleh migran gelombang kedua. Tahap migrasi kedua, Melayu atau Deutero-Melayu. Kelompok kedua ini datang mungkin, atau mungkin tidak sebagai anggota superior. Mereka datang dengan tingkat peradaban tinggi dari elemen kebudayaan India, organisasi sosial yang teratur, dan persenjataan lebih unggal, dan lebih mudah mengatur diri mereka. Mereka lebih mudah asosiasi dengan orang-orang yang mirip atau sama dengan mereka seperti orang Jawa, Sulawesi dan Kalimantan.

Post a Comment

0 Comments