Business

header ads

Subscribe Us

header ads

Sobat Hartomo: Hari ini 17 Tahun Lalu...

Sobat Hartomo,

𝐇𝐚𝐫𝐢 𝐢𝐧𝐢 𝟏𝟕 𝐭𝐚𝐡𝐮𝐧 𝐥𝐚𝐥𝐮 ...... 𝟏𝟎 𝐍𝐨𝐯𝐞𝐦𝐛𝐞𝐫 𝟐𝟎𝟎𝟏 .... 𝐤𝐨 𝐦𝐚𝐬𝐢𝐡 𝐢𝐧𝐠𝐚𝐭 𝐩𝐞𝐫𝐢𝐬𝐭𝐢𝐰𝐚 𝐢𝐭𝐮 𝐤𝐚𝐡?
𝐒𝐢𝐚𝐧𝐠 𝐢𝐭𝐮 𝐤𝐨 𝐝𝐚𝐭𝐚𝐧𝐠 𝐛𝐚𝐰𝐚 𝐤𝐚𝐝𝐨, 𝐚𝐝𝐚 𝐣𝐮𝐠𝐚 𝐬𝐚𝐭𝐮 𝐚𝐦𝐩𝐥𝐨𝐩 𝐛𝐞𝐫𝐭𝐮𝐥𝐢𝐬𝐚𝐧 𝐔𝐍𝐃𝐀𝐍𝐆𝐀𝐍 ..... 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐬𝐚𝐦𝐚 𝐬𝐞𝐤𝐚𝐥𝐢 𝐬𝐚 𝐭𝐫𝐚 𝐬𝐚𝐧𝐠𝐤𝐚 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐢𝐭𝐮 𝐔𝐧𝐝𝐚𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐮𝐧𝐭𝐮𝐤 𝐡𝐚𝐛𝐢𝐬𝐤𝐚𝐧 𝐧𝐲𝐚𝐰𝐚 𝐬𝐚𝐲𝐚. 𝐓𝐞𝐫𝐢𝐦𝐚𝐤𝐚𝐬𝐢𝐡 𝐬𝐨𝐛𝐚𝐭.

“Ko memang hebat! karna oleh nafsu kedengkian dan kebencian, kerakusan dan kebusukan hatimu, ko telah melakukan suatu tindakan kejahatan yang diakui oleh negaramu...... Pahlawan Indonesia.”

“Ya ya ....kau melakukan pembunuhan terhadap saya atas perintah Megawati dan SBY dan ini sa tahu beberapa jam kemudian setelah arwah saya disambut oleh sapu moyang dikampung Sereh di pinggir danau Sentani.”

“Setelah ko bunuh saya, ko naik pangkat to? tapi setelah ko bunuh saya dimanakah Hasil Otsus yang di janjikan oleh Megawati dan SBY dan NKRI?”

“Ko pi tanya dong dua, bilang saya, THEYS HIYO ELUAY, mo tau ..... sa su dibunuh, baru dimana hasil Otsus? Wa wa wa wa ........ Sobat HARTOMO.”

“Otsus itu hanya untuk keuntungan kam orang Indonesia dan beberapa gelintir orang Papua yang menggunakan Otsus itu sebagai kesempatan untuk memperkaya diri. Pura-pura jadi OPM tapi jual bangsa sendiri.”

“Mereka-mereka orang Papua yang ambil keuntungan dari Otsus itu, lain su mati dan yang lain lagi sedang dan mulai jalan buang-buang kaki tunggu ambulance untuk jemput.”

“Jakarta memang hancur karna dong pake uang Otsus itu untuk baku tipu dan baku naik di gedung-gedung mewah ..... sampe tidak tahu yang tanah Papua sudah ponoh dengan transmigran Indonesia dan banyak orang Papua yang diburu dan dibunuh kaya binatang. Itu yang kamorang bilang Otsus tu kah?

Sobat HARTOMO,

“17 tahun lalu, 10 November 2001, sa baru umur 64 tahun 7 hari. Karena sa lahir tahun 1937, tanggal 3 November. Hari ini saya berumur 81 tahun 7 hari. 64 tahun hidup dipinggir danau Sentani sebagai Ondoafolo dan Pemimpin Bangsa Papua, 17 tahun sebagai almarhum dan terbaring bersama arwah2 moyangku di tanah kelahiranku Sentani - Papua.”

“Sebenarnya saya masih punya kesempatan untuk bisa hidup sebagai anak Papua di pinggir danau Sentani tapi sayang karena ko mengikuti perintah Megawati dan SBY untuk memperpendek hidup saya baik sebagai anak Sentani dan Ondoafolo Sereh dan juga sebagai Pemimpin Bangsa Papua, maka sa mo bilsng ..... tra papa sobat. Ko deng orang-orang Papua yang kamorang sekongkol untuk bunuh saya tu nanti kita bikin perhitingan di saat dimana kamorang menyeberang dengan ambulance ke sini.”

“Di dunia ni trada sesuatu yang kekal dan abadi. Yang kekal dan abadi dan tidak pernah berobah adalah Tuhan Allah punya Kasih untuk ko deng saya, dan kepada seluruh umat manusia termasuk ko pu anak-anak buah yang ko perintahkan untuk cekik sa pu leher lalu bawa sapu mayat buang di dekat daerah perbatasan. Wa wa wa wa ..... Pahlawan2 Indonesia (?).” 

“Selamat atas kamorang pu perbuatan2 itu.”

“Tenang-tenang saja sobat. Hari ini panas, mungkin besok ada hujan menetes.”

“Hari ini ko Pahlawan tapi belum tentu ko masuk Nirwana (Sorga) karena ko telah berhasil membunuh seorang Pejuang dan Pemimpin Bangsa Papua yang berjuang secara damai untuk menuntut hak kedaulatan dan kemerdekaan bangsanya.”

“Yang perlu sobat ko tahu dan sadari adalah bahwa engkau telah membunuh saya dan seberapa bayak lagi orang Papua yang terbunuh baik di masa kekuasaan Sukarno, Suharto, Habibi, Abdurachman Wahid, Megawati, Susilo Bambang Yudhiyono, dan Joko Widodo, darah dan tulang2-tulang orang Papua yang kalian bunuh melalui operasi-operasi Militer yang terus berlangsung hingga kini akan menyuburkan perjuangan bangsa Papua mencapai krmerdekaan dan kedaulatannya tanpa NKRI.”

“Sobat HARTOMO, Ingat baik-baik dan simpan ini di ko pu kepala.”

“Tidak apa apa sobat.”

“Semuanya baik, sudah terjadi tapi tidak pernah akan berlalu begitu saja sesuai dengan kemauan, kekuatan dan kekuasaan yang ko, Megawati, SBY dan Joko Widodo pegang.”

“Ko ingat bahwa ....... Kekuatan dan Kekuasaan itu tidak abadi to sobat?”

“Kalo nanti ko ketemu Megawati dan SBY, ko bilang dong dua, saya, THEYS HIYO ELUAY, yang dong dua perintah ko untuk bunuh itu sedang tunggu dong dua di muka pintu di kamar sebelah (next door) yang gelap, panas dan berbau pengap, penuh teriakan dan tangis ........ kamar yang sudah disediakan buat dong dua.”

“Baru, ngomong ngomong ..... kapan nanti sobat ko datang e?”

“Kalo ko mo datang jang lupa kasih kabar e?”

“Ini sapu nomor hp : + 000 0000 10112001.”

“Kalo ko perlu sa pu email address nanti sa inbox besok.”

“Tapi sobat, kalo ko mo datang, jang lupa ambel kipas angin dan generatior satu karena kamar yang nanti sobat tinggal tu gelap baru de pu panas juga bukan main main ....... Generator kecil satu ko musti ambel juga karna PLN di tempat yang nanti sobar tunggal itu dong p uh Generator su rusak dan hancor 20 tahun lalu kena bom rakitan dari kopu sudara2 dorang yang dong boss sekarang ada dapat tahan di Mekah.”

“Jadi jangan lupa e? Genset dan kipas angin!.”
“Lalu sobat, di mana Ariestoteles Masoka? Sa dengar waktu ko pu anak-anak buah cegat saya dan Aries di Entrop, dong tarik Aries keluar dan dong ambil alih stir dan bawa lari saya. Setelah Aries hubungi isteri saya di rumah, Aries kembali ke ko pu kantor dan lapor kejadian itu ....... dan dalam kuasa dan pengetahuan ko, ARIESTOTELES HILANG TANPA BEKAS.????”

“Ba masa ko sembunyi mati sampe. Bisa ko kastau de pu orang tua dan family dorang kah dimana ko bunuh dan kubur dia?”

Kasian e .... Aiestoteles…!!!

“Dia adalah satu diantara puluhan ribu anak-anak muda Papua yang tra punya kesempatan dan pengharapan untuk hidup dalam NKRI yang kolonial ini yang tiap hari dibunuh kaya binatang.
Tra papa kalo ko tra mau kas tau dimana anak muda ARIESTOTELES .......”

“Iyo ..... e. Jang ko lupa kasih berita e, kalo ko su dekat mo datang.”

“Biar nanti sa deng Ariestoteles tunggu sobat di muka pintu sebelum Kepala Asrama Hitanm datang jemput sobat.”

𝐒𝐄𝐋𝐀𝐌𝐀𝐓 𝐌𝐀𝐋𝐀𝐌 𝐝𝐚𝐧 𝐒𝐄𝐋𝐀𝐌𝐀𝐓 𝐇𝐀𝐑𝐈 𝐏𝐀𝐇𝐋𝐀𝐖𝐀𝐍 𝐬𝐨𝐛𝐚𝐭 𝐇𝐀𝐑𝐓𝐎𝐌𝐎.

𝐷𝑎𝑟𝑖 𝐴𝑙𝑚𝑎𝑟ℎ𝑢𝑚 𝑇𝐻𝐸 (𝑇ℎ𝑒𝑦𝑠 𝐻𝑖𝑦𝑜 𝐸𝑙𝑢𝑎𝑦) ...... 𝑘𝑜𝑟𝑏𝑎𝑛 𝑝𝑒𝑚𝑏𝑢𝑛𝑢ℎ𝑎𝑛 10 𝑁𝑜𝑣𝑒𝑚𝑏𝑒𝑟 2001 𝑚𝑎𝑙𝑎𝑚, 17 𝑡𝑎ℎ𝑢𝑛 𝑙𝑎𝑙𝑢.

𝗦𝗘𝗟𝗔𝗠𝗔𝗧 𝗛𝗔𝗥𝗜 𝗣𝗔𝗛𝗟𝗔𝗪𝗔𝗡 𝗣𝗔𝗥𝗔 𝗣𝗘𝗠𝗕𝗨𝗡𝗨𝗛 𝗢𝗥𝗔𝗡𝗚 𝗣𝗔𝗣𝗨𝗔 !!!

#OtonomiKhusus #Otsus #PapuaMerdeka #WestPapua #Referendum #Merdeka #FreeWestPapua #FreePapua

Post a Comment

0 Comments