1. Awal Kehidupan dan Pendidikan Sepak Bola
Lahir: 21 April 1973, di Jayapura, Papua (Indonesia) .
Mimpi Awal: Semula berniat jadi tentara karena dibesarkan di lingkungan militer di Sentani, Papua. Namun, syarat menjadi tentara adalah kemampuan bermain bola. Ketertarikannya pada sepak bola bermula dari situ .
Kreativitas Bermain: Karena kesulitan memperoleh bola sepak, Aples dan teman-temannya sering bermain menggunakan bola tenis. Ia bahkan menjadi ball boy tenis di lapangan tentara untuk mendapatkan bola tenis bekas .
Posisi Awal: Memulai sebagai kiper, lalu menjadi bek (dan kadang penyerang) saat memperkuat Persipura di Divisi Satu .
---
2. Awal Karier dan Program Primavera
PON 1993: Mengawali karier profesionalnya di PON ke-13 bersama tim Irian Jaya yang menjadi juara dengan rekor tak terkalahkan .
Program Primavera (1993–1994): Terpilih sebagai bagian skuad PSSI Primavera yang dikirim ke Italia di bawah naungan klub Sampdoria. Disana bersama nama-nama besar seperti Kurniawan Dwi Yulianto, Bima Sakti, Alexander Pulalo, dan Chris Yarangga. Program Primavera menjadi batu loncatan ke Piala Asia U-19 .
Pengalaman sulit adaptasi: Aples harus menghadapi cuaca dingin ekstrim di Italia, termasuk pengalaman laga melawan Parma di mana kondisi lapangan membuat ototnya kram dan tim kalah telak .
Menolak tawaran bermain di luar negeri: Meskipun mendapat tawaran dari klub Swedia Helsingborg, Aples memilih tetap membela Timnas Indonesia .
---
3. Karier Klub
Pelita Jaya (1995–2002): Klub utama dalam kariernya. Bermain sebagai bek dengan penampilan lebih dari 20 pertandingan .
PSPS Pekanbaru (2003), Persija Jakarta (2004), Perseman Manokwari (2005): Pindah ke beberapa klub setelah era Pelita Jaya .
Pengalaman di klub: Sempat merasakan atmosfer tim berisi bintang di PSPS bersama Sugiantoro, Uston Nawawi, Erol FX Iba, dan Carlos de Mello. Namun sempat kejenuhan karena manajer yang mendatangkan mereka pergi sebelum kompetisi bergulir .
Integritas tinggi: Pernah menerima tawaran untuk “lepas satu gol” (match-fixing), tapi menolak karena merasa tidak nyaman dengan hal tersebut .
---
4. Kiprah di Timnas Indonesia
Debut Internasional (1996–2004): Bermain sebagai bek, mencatat 41 caps dan 2 gol untuk timnas .
Turnamen besar: Mengikuti Piala Asia (1996 & 2004) .
Final yang pahit:
SEA Games 1997: Indonesia kalah adu penalti dari Thailand setelah imbang 1–1 .
Piala Tiger 2002: Sekali lagi kalah di final lewat adu penalti melawan Thailand .
Pencapaian: Runner-up AFF Championship (Piala Tiger) 2002 .
---
5. Kehidupan Pasca-Pensiun
Cedera dan pensiun (2004): Lutut terluka dan menyisakan cairan yang mengakibatkan otot mengecil, memaksa Aples pensiun pada usia 31 tahun .
Bisnis angkot di Manokwari: Memiliki tiga unit angkot. Namun, bisnis itu berisiko dan akhirnya ditinggalkan ketika ia memasuki karier sebagai PNS .
Menjadi PNS: Ditawari dua kali menjadi PNS oleh Pemerintah Papua Barat—pertama ditolak, lalu kemudian diterima saat sudah nyaman berbisnis angkot .
Karier pelatih dan administrasi:
Asisten pelatih Timnas Pelajar U-18, termasuk kejuaraan IBER Cup (Portugal, Spanyol) .
Inisiasi akademi sepak bola WBFC di Bandung sejak 2019; merekrut anak-anak berbakat dari seluruh Indonesia (termasuk Papua) dan membina mereka .
Menangani tim Papua Pegunungan di PON XXI Aceh–Sumut (2024); berhasil lolos hingga perempat final .
---
Kesimpulan Singkat
Aples Gideon Tecuari adalah sosok bek tangguh era 90-an dari Papua yang menonjol di program Primavera dan membela sejumlah klub besar serta Timnas Indonesia. Setelah pensiun karena cedera, ia sempat merintis usaha angkot sebelum kemudian menjadi PNS dan pelatih. Saat ini ia berkontribusi dalam pengembangan bakat muda sepak bola melalui akademi WBFC dan tim PON. Kisahnya mencerminkan dedikasi, integritas, cinta tanah air, serta upaya memperkuat basis sepak bola Papua.
0 Comments