Business

header ads

Subscribe Us

header ads

Divisi Negritos di Celebes dan BorneoBagian Enam

Oleh Ibrahim Peyon.

Kemungkinan keberadaan orang dengan ciri Negritos di Kalimantan telah ditulis oleh penjelaja dan antropolog pada dua abad lalu. George Windsor Earl dalam kunjungannya ke Borneo/Kalimantan pada tahun 1834, telah diberitahu oleh beberapa orang penduduk asli yang lebih cerdas, bahwa ada orang-orang liar, berambut seperti bulu wol di pedalaman Bornoe. Windsor Earl memperoleh berita tentang orang Papua di Borneo itu juga disampaikan oleh seorang Kapten Kapal laut, bernama Brownrigg bahwa penduduk asli, orang pedalaman yang tinggal di sekitar gunung Thabor dihuni oleh penduduk dengan ciri orang Papua. Windsor Earl tulis; “penduduk di sekitar gunung Thabor yang bertubuh pendek tapi kekar, berkulit hitam pekat, dengan rambut yang sangat pendek dan keriting, sehingga kepalanya tampak ditutupi dengan kenop-kenop kecil, ini sangat sesuai dengan penampilan umum rambut orang Papua yang merawat kepalanya dengan dicukur, dan saya tidak ragu sedikit pun bahwa mereka adalah orang Papua yang tidak bercampur. Dia juga menggambarkan kulit dada dan bahu yang tampaknya mirip dengan beberapa suku di New Guinea“ (Earl 1853: 146).

Penjelasan selanjutnya, Earl mengutip tulisan Dalton, yang pernah tinggal 11 bulan di Sungai Coti, di Burn Selatan pada tahun 1827-1828. Makalah Dalton itu awalnya diterbitkan oleh "Singapore Chronicl, dan kemudian dipublikasi ulang dalam “Notices of the Indian Archipelago”. Dalam tulisan ini, Dalton deskripsikan orang-orang liar yang dianggap sebagai orang Papua disamakan dengan monyet, hidup dibawah pohon, tidak berbudaya, hubungan intim secara liar di hutan. Mereka diburuh oleh orang Dayak seperti layaknya hewan buruan, para laki-laki dipenggal dan perempuan yang sudah tua dibunuh, sedang perempuan yang masih muda dibawa sebagai istri orang Dayak.

Earl sendiri tidak melihat orang Papua di Borneo tersebut, ia tulis itu berdasarkan keterangan yang diperoleh dari beberapa penduduk setempat dan keterangan dari Kapten Brownrigg. Oleh karena itu, Waitz-Gerland berkomentar sebagai berikut: "Laporan lama menyebutkan telah ditemukan orang Papua di pedalaman Kalimantan, tetapi Earl menyatakan dengan sangat tepat bahwa tidak ada pengelana yang pernah melihatnya sendiri (Waitz-Gerland 1865: 256). Schivaner meyakinkan bahwa tidak ada seorang pun ras Papua di sana kecuali beberapa orang Papua di Timur Laut wilayah itu, yang diperkenalkan dari Kepulauan Suki (Schivaner 1853: 164). Seorang ahli lain, Zannetti yang telah memperoleh sebuah tengkorak orang Dayak dari Beccari, dan mengatakan tengkarak itu adalah milik seorang Negrito di Borneo (Tannetti 1872: 159 in Roth 1896: 295). Antropolog lain, Hamy (1879) mengatakan bahwa deskripsi sebuah tengkorak yang dilakukan oleh Jourdan di Museum Lyon sebagai keberadaan Negrito di bagian pedalaman Borneo. Pendapat yang sama dikemukakan oleh profesor William Flowers bahwa tengkorak yang disimpan di Catalogue, Royal College di Surgeon tentang tengkorak No. 745: dikatakan sebagai tengkorak Negrito itu ialah tengkorak seorang Dayak, tetapi tengkorak itu lebih banyak memiliki ciri-ciri orang Melanesia dari pada Melayu, tengkorak itu mungkin milik seorang Papua, karena orang Papua sering dibawa ke Borneo sebagai budak (Flowers in Roth 1896: 301).
       
Meyer berkomentar bahwa Earl di sini hanya mereproduksi pernyataan Dalton yang menghormati suku-suku tertentu di Borneo Utara, yang mana Earl mengatakan bahwa mereka mungkin terkait dengan penangkap laut yang disebutkan Negrito di atas, meskipun Dalton sendiri menyebut mereka "Dyak liar", untuk mengubah orang Dayaknya menjadi orang Negrito. Apa yang ditambahkan Earl ke dalam catatan Dalton membuatnya tampak hampir mustahil bahwa orang-orang itu adalah orang Negrito. Meyer dalam kesimpulannya mengatakan bahwa semua ini membawa saya pada kesimpulan bahwa keberadaan Negritos di Kalimantan belum terbukti; namun kita tidak bisa menilai dengan pasti sampai interiornya dieksplorasi secara menyeluruh (Meyer 1899: 30). Charles Hose dan William Mcdougall, mengatakan bahwa: “bukan tidak mungkin bahwa Kalimantan pada suatu waktu telah dihuni oleh orang-orang dari ras Negrito, sisa-sisa kecil ras tersebut masih dapat ditemukan di pulau-pulau yang berdekatan dengan pantai-pantai di seluruh Kalimantan dan juga di Semenanjung Malaya. Pada saat ini tidak ada komunitas ras ini di pulau itu; tetapi di antara orang-orang di distrik utara, kadang-kadang ditemui orang-orang dengan karakter rambut dan wajah yang sangat menyarankan dengan campuran darah Negrito atau negroid (Hose and Mcdougall 1912: 28).

Haddon dalam tulisannya sebagai lampiran yang diterbitkan oleh Charles Hose dan William Mcdougall mengatakan bahwa: orang akan berharap untuk menemukan Negritos di pedalaman Kalimantan, karena pigmi hitam berambut lingkar (wol) ini mendiami Andaman, bagian dari Semenanjung Malaya, Sumatra, Filipina, New Guinea, dan Melanesia. Tidak ada bukti resmi tentang kemunculan mereka di Kalimantan, dan salah satu cao dengan yakin menyatakan bahwa tidak ada orang Negrito di Sarawak. Juga tidak ada jejak orang Melanesia (Haddon in Hose and Mcdougall 1912: 28). Haddon melakukan klasifikasi orang-orang di Sarawak menjadi enam kelompok dan lima puluh etnik, dimana semua etnik-etnik itu tidak menunjukkan dengan ciri orang Negrito, atau dengan ciri-ciri orang Papua. Studi-studi antropologi selanjutnya pasca masa kolonial pun belum ditemukan bukti yang meyakinkan tentang jejak dan eksistensi orang Negrito dan Papua di daerah itu. Bukti prasejarah masih kurang untuk menelusuri jejak orang Negrito. Keberadaan Negrito di Kalimantan baik di masa lalu maupun di masa sekarang belum tersedia. Tetapi, banyak antropolog menyatakan bahwa orang Negrito pernah mendiami pulau itu, dan pandangan itu diperkuat dengan studi arkeologi, dimana penemuan tengkorak ras negrito di Gua Niah di Sarawak yang berusi 45-50.000 tahun.    

Tentang Sulawesi, Meyer mengatakan jejak orang Negrito di Sulawesi pengaruh dari kesultanan Ternate yang telah menguasai sebagian wilayah Sulawesi di bagian timur. Demikian pendapat Meyer, “bagian Sulawesi ini dulunya berada di bawah kekuasaan Ternate (sebagian kecil dari pantai Timur masih menjadi milik Ternate), dapat dipastikan bahwa orang-orang Papua dulunya datang ke sana sebagai budak, sebagaimana mereka ditahan sebagai budak di Minahasa. Oleh karena itu, sangat mungkin bahwa orang-orang Papua ini telah menjalankan pengaruh fisik tertentu di sana-sini pada individu dan keluarga, sehingga ada orang yang rambutnya yang kurang lurus dan lebih keriting mungkin dipengaruhi oleh mereka. Tapi ini tidak akan menjadi jejak populasi Negrito asli di Sulawesi“ (Meyer 1899: 32).

Pendapat yang berbeda dikemukan oleh Adolf Riedel (1871: 301) ia mengatakan: "Pertanyaan apakah Sulawesi Utara dulunya tidak dihuni oleh suku lain keturunan Afrika atau Indo-Afrika, yang sama dengan penduduk Papua, Fiji, dan pulau-pulau lain, tidak dapat dijawab dengan pasti. Meskipun pendapat seperti itu diadvokasi oleh para etnolog yang berbeda mengenai seluruh Kepulauan Hindia pada umumnya, tidak tampak dari tradisi mana pun yang dianut oleh penduduk saat itu bahwa nenek moyang mereka menemukan populasi berambut keriting pada saat kedatangan mereka dan kelompok Negrito itu telah mengusir atau dimusnahkan. 

Teori yang berbeda dikemukakan oleh Raymond Kennedy (1943) bahwa orang-orang yang ditemukan dengan ciri kulit agak kuning, lemah dan rambut kelombang hingga keriting, dagu menyusut yang tinggal di sejumlah pulau lain di Indonesia disebut ras Veddoid. Tampaknya ras Veddoid dari produk hibrida kerdil antara Melayu dan Australoid. Sisa-sisa ras Veddoid mendiami rawa-rawa Sumatra timur, sebagian Kalimantan dan Sulawesi, dan pulau-pulau tertentu di Indonesia timur, terutama Seram. Orang-orang Veddoid lainnya ditemukan di Ceylon, Malaya, Sulawesi, Seram dan Filipina. 
Raymond Kennedy (1943) mengklasifikasi orang-orang di Sulawesi ke dalam enam kelompok berdasarkan area kultural dan diklasifikasi menjadi tujuh kompleks etnik. (1). Kelompok Minahasa-Grondalo; (2) Kelompok Toraja; (3) Kelompok Loinang; (4) Kelompok Sadang; (5) Kelompok Mori-Laki; dan (6) Kelompok Makasar-Bugis. Salah satu suku primitive yang kecil tahun 1940-an adalah suku Toala, waktu itu mereka tinggal di gua-gua dan gubuk-gubuk kecil di lembah pegunungan terpencil di barat daya Sulawesi, dan mereka memiliki ciri-ciri ras campuran antara Melayu dan Austronaid disebut Veddoid tadi. Kelompok Loinang terdiri atas etnik Loinang, Wana, Banggai, dll, mereka memiliki budaya yang saling terkait dan mewariskan elemen ras Proto-Melayu dan dengan unsur-unsur Veddoid muncul terutama di antara kelompok Loinang dan Mori-Laki. Negrito yang telah tenggelam terutama suku-suku Toraja barat tertentu (Kennedy, 1943: 19), karena sisa-sisa elemen Negrito nampaknya ditemukan di sana. 

Penemuan tengkorak dari studi-studi arkeologi di Gua Niah Serawak di Pulau Borneo yang berukuran kecil, dan menampilkan morfologi yang halus dengan ciri-ciri tengkorak Negrito, fosil dengan Spesimen yang berumur 40.000–50.000 tahun ini diidentifikasi sebagai milik tengkorak Negrito yang pernah hidup 45.000 tahun lalu sebelum ras-ras Melayu menguasai pulau itu. Peneliti menimpulkan bahwa tengkorak-tengkorak ini nilainya direkonstruksi berada di luar kisaran sampel Pleistosen tua/Holosen Awal Asia Tenggara dan Australia, dianggap lebih tua dari masa Pleistosen. Tengkoran orang Negrito dengan ukuran yang sama telah ditemukan di Filipina yang berumur lebih dari 45.000 tahun, dan bukti-bukti penemuan tengkorak ini menunjukkan ras Negritos sebagai penduduk asli di kedua kepulauan itu. Penemuan tengkorak yang berusia 45.000-50.000 tahun itu jelas tidak berkaitan dengan kesultanan Tidore yang pernah menjual budak orang Papua ke Sulawesi dan Borneo sebagaimana telah disebutkan oleh Meyer di atas. Karena, kesultanan-kesultanan itu berusia relatif masih baru setelah migrasi ras-ras Melayu dan Polinesia mencapai daerah ini 3.000 tahun lalu.

Dalam studi-studi itu para antropolog tersebut belum dapat menimpulkan bahwa elemen-elemen Negritos yang ditemukan di Borneo dan Celebes itu sebagai sisa-sisa Negritos yang pernah menghuni pulau-pulau itu, kemudian mereka dimusnahkan oleh gelombang migrasi proto-Melayu dan Deusto-Melayu di kedua daerah itu. Tidak ada temuan pasti dalam studi-studi itu tentang keberadaan ras Negrito. Berbagai studi antropologi tersebut dapat menimpulkan tiga teori tentang penemuan elemen-elemen Negrito atau Papua di Borneo dan Celebes tersebut. Pertama, orang-orang dengan ciri-ciri Negrito yang telah ditemukan di Borneo dan Celebes tersebut sebagai produk hibritas antara budak orang Papua yang dibawa ke sana dan ras Melayu. Kedua, produk hibritas antara Proto-Melayu dengan Austroid yang menurunkan ciri-ciri campuran yang disebut ras Veddoid. Ketiga, beberapa antropolog berpendapat bahwa elemen-elemen Negritos ditemukan di daerah-daerah itu sebagai sisa-sisa ras Negrito yang pernah tinggal sebelum invansi ras Melayu dan ras Negrito itu dimusnahkan oleh ras Melayu.

Post a Comment

0 Comments