Business

header ads

Subscribe Us

header ads

Eli peyon pu foto ini ingatkan saya tentang alam ciptaan Tuhan orang Papua di tempat ini


Eli peyon pu foto ini ingatkan saya tentang alam ciptaan Tuhan orang Papua di tempat ini. Hampir 20 kali saya lewat jalan ini, selalu pikir bagaimana manusia diami di sini, karena sangat dingin, tanaman tidak´bisa tumbuh akibat dingin. Wilayah ini terletak di atas ketinggian 4.000 kaki lebih. Saat kami lewat di sini, selalu lapar cepat, lembah ini namanya Muklisa, tanjakan di depan di sana bernama Tinggilek, gunung ini bernama Kuni, kita naik tanjakan itu ketemu gua Kuni, sebuah tempat yang paling dingin di tempat ini, terakhir saya tidur di gua Kuni itu setelah lulus kuliah S1 tahun 2002, saya pakai selimut, lapis jeget tebal, kos kaki tebal 3 lapis, di pinggir api besar, tetapi tetap saja masih dingin. Kos kaki saya terbakar hingga tembus telapak kaki, barulah saya rasa kaki sedang terbakar api.

Sekitar 20 meter dari gua itu terletak delaga bernama telaga Kuni. Saat kita lihat telaga ini, 15-20 menit kemudian selalu ada hujan deras, karena itu dilarang melihat delaga itu. Semua jenis air di sini warna cokelat tua yang semuanya sangat dingin, seperti air es dan paling dingin. Tangan dan kaki selalu jadi geram. Di masa lalu laki-laki tidak bisa pakai koteka karena tangan mereka terlalu geram seperti helep bantong (batu bulat). Karena itu, sebuah tempat, dimana tempat yang mengambil arah foto ini bernama Nuwaliluhut, berarti nuwali dua buah kelamin laki-laki, luhut berarti ikat, maka nuwaliluhut berarti ikatlah kedua buah kelamin laki-laki, maksudnya diikat kuat agar koteka tidak lepas karena dingin. Tempat tersebut diberi nama dalam konteks kedinginan tersebut.
Jalan setapak ini bernama Kuni dan tembus di Folungsili, ada jalan lain di sebelah kiri foto ini (arah utara) bernama Likin dan suweruk, ikut jalan Likin tembus Sali dan Panal, dan jalan suweruk tembus Werenggikma. Ke sebelah utara lagi ada jalan lain, bernama Wisi dan Nambuk, wisi tembus Pong dan Nambuk tembus Kulet dan jalan terakhir ke utara Sanimbar yang menuju Pass Valley, jalur jalan Wamena-Jayapura sekarang. Ke arah selatan ada jalan Kolo yang tembus Pondengpilik, jalan elit tembus Piliyam-Pronggoli, ada beberapa jalan lain tembus Solinggul dan Ninia, semua jalan ini mempunyai sejarah yang berhubungan dengan migrasi orang Yali dan Hubula di masa penciptaan dan persebaran manusia. Tiap klen pasti akan menceritakan jalan-jalan terkait migrasi leluhur mereka, kepemilikan tanah dan simbol-simbol alam mereka di sepanjang jalan-jalan setapak ini.
Jenis tumbuhan pakis yang ada di lembah ini mempunyai sejarah penting dalam sejarah evolusi orang Yali, menurut sejarah Evolusi Yali setelah penciptaan bumi, langit dan manusia, tumbuhan yang tumbuh pertama di bumi adalah lumut, dan tumbuhan kedua adalah jenis pakis ini. Pakis ini bernama pinte-pinte sebagai nama umum (nama kelas ringan), dalam bahasa sehari-hari, tetapi ia memiliki nama ilmiah atau nama khusus (kelas tinggi) dalam bahasa Yali yang disebut Olombimbi, istilah Olombimbi itu hanya diucapkan oleh tabib dalam ritus suci, dan dalam inisiasi kelas tinggi disebut Muruwal, cerita Yeli juga dihubungkan dengan jenis tanaman ini.
Khusus bagi teman-teman yang tidak pernah melihat zona ekologi di atas ke tinggian 4.000 kaki, kondisi alam dan zona ekologinya seperti ini. Tidak ada tumbuhan yang tinggi, tetapi ditumbuhi lumut, tumbuhan rendah, pakis, dan jenis-jenis pohon-pohon kecil, tapi sangat kuat pohon-pohon tersebut. Pohon-pohon yang banyak ditumbuhi di sini adalah pohon lag, sagi, marapna, dan sohosa, dan beberapa jenis lain. Sahi/Marapna dan Lag adalah jenis-jenis kayu yang paling kuat dan keras, buat rumah atau jembatan dari jenis kayu-kayu ini bertahan hingga ratusan tahun. Karena jembatan dan tiang pondok yang dibuat oleh leluhur 3-4 generasi lalu masih kuat hingga sekarang. Zona ekologi di lembah-lembah puncak gunung seperti di foto ini, lebih ke atas adalah puncak-puncak gunung yang hanya terdiri dari batu-batu dengan dua jenis tumbuhan lain yakni sohosa dan mumit. Sohosa adalah jenis tumbuhan pohon lebih rendah saat berbunga banyak burung jenis nuri (werene, siohosil, yuma, dll) datang dan mengisap bunga-bunga pohon itu, mumit dan yawet adalah dua jenis tumbuhan rendah yang hanya ada di tempat dingin. Di pagi hari dan pada waktu hujan, tempat ini dan sekitarnya dipenuhi butir-butir air keras berwarna putih yang sangat dingin, butir-butir air itu bisa diambil, dipegang dan dilembar seperti batu. Dalam bahasa Yali disebutnya Soho Anggen, berarti salju. Orang lain harus ke Eropa atau Amerika untuk melihat salju, tetapi kami mengalami itu tiap hari di kampung kami sendiri.
Ketika ilmuwan asing, Eropa. Amerika dan Indonesia lewat melalui jalan-jalan ini dan melibat berbagai keunikan di wilayah ini, pasti mereka umumkan ada penemuan baru berbagai jenis hewan, tumbuhan dan kondisi alam yang ada di sana. Pasti mereka juga diberi nama berbagai spesies yang mereka lihat itu sesuai dengan nama-nama dari budaya mereka yang disebut nama ilmiah. Tetapi, kami orang Papua selalu hidup dengan ini, kami mempunya nama dan sejarah tersendiri dengan lokasi, dan berbagai spesies tersebut. Kami tidak mengumumkan bahwa itu spesies baru, tetapi spesies lama yang hidup bersama kami di sini. Kalau begitu siapa yang UDIK? hahaha--- para Ilmuwan yang selalu UDIK Mooo????

Post a Comment

0 Comments